Direktris YASALTI: Keluarga Harus Berperan Penting Dalam Membantu Proses Terapi Anak Difabel Tunadaksa

     YASALTI membagikan kursi roda kepada sejumlah anak difabel tunadaksa yang terdapat di kabupaten Sumba Timur, jumlah kursi roda yang dibagikan berjumlah 24 buah kursi, pembagian kursi roda kepada difabel tunadaksa diberikan langsung oleh direktris Yasalti didampingi teman-teman dari yasalti. Pada sabtu 29 September 2018 jumlah kursi roda yang dibagikan kepada difabel tunadaksa terdapat 5 buah yang tersebar di berbagi kelurahan maupun desa yang terdapat di Kecamatan Kambera. 2 buah kursi roda dibagikan kepada penyandang difabel tunadaksa yang terdapat di Desa Kiritana, 1 buah kursi roda dibagikan kepada difabel tunadaksa yang terdapat pada kelurahan Maulumbi, 1 buah kursi roda dibagikan kepada difabel tunadaksa yang terdapat kelurahan Lambanapu dan desa 1 buah kursi roda yang dibagikan di Dusun Pameti Mahu. Renacananya pembagian kursi roda akan dibagikan terus kepada sejumalah anak difabel tunadaksa yang terdapat pada wilayah pendampingan Yasalti. Pembagian kursi roda yang dilkaukan oleh YASALTI kepada anak-anak difabel tunadaksa berkat kerjasama antara YASALTI dengan Caritas German dan Yayasan Harapan Sumba (YHS)

  Direktris YASALTI Ninu Rambu Wasak Lodang disela-sela pembagian kursi mengatakan keluargalah yang harus mengambil peran banyak dalam menterapi anak-anak difabel tunadaksa, keluarga jagan merasa malu jika mempunyai anggota keluarga yang difabel tunadaksa, karena mereka merupakan anugerah pemberiaan dari Tuhan. Pembagian kursi roda juga ini sangat berguna untuk menterapi anak-anak, karena kursi roda ini berbeda dengan kursi roda yang pada umumnya kita lihat di rumah sakit.

     Selanjutnya direktris YASALTI mengatakan pola asupan gisi anak-anak juga harus diperhatikan dengan baik oleh keluarga supaya bisa membantu anak-anak agar cepat sembuh, karena saya berkeyakinan anak-anak penyandang difabel tunadaksa ini bisa sembuh karena mereka masih kecil masih juga dalam proses pertumbuhan oleh sebab itu bisa diterapi terus dengan cara mengurut anak setiap harinya dan membawa anak kepantai agar tangan dan kakinya menjadi kuat.

     Zakarias Mopa anak yang mendapatkan bantuan kursi roda oleh YASALTI dari desa Kiritina, meluapkan ucapan kegembiraannya dengan bernyaynyi lagu gereja dan lagu bahasa Sumba. Zakarias sangat senang, karena selama ini hanya ditaru oleh orangtuanya ditas tempat tidur saja, namun saat ini bisa berkeliling rumah menggunakan kursi roda. Umbu Zaka menuturkan terimaksih banyak kepada Yasalti yang sudah membantu saya, saya pun berkeinginan ke kota Waingapu menggunakan kursi roda ini, dan ingin ke Gereaja selain itu juga dikala ada pertemuan keluarga saya kira saya sudah bisa duduk bersama keluarga, tidak lagi hanya tidur berbaring dikamar.

     Orang tua dari Zakarias Mopa yaitu Yusup R. Wohangara mengatakan limpah terimakasih banyak kepada YASALTI, saat ini kami keluarga tidak mempunyai modal yang cukup untuk membeli kursi roda kepada anak saya Umbu Zaka, namun saat ini saya sangat terbantu sekali karena adanya bantuan kursi roda yang diberikan oleh Yasalti. Saya juga akan mengikuti arahan dari teman-teman Yasalti untuk mau peduli dan merawat anak saya Umbu Zaka. Saya juga akan menjaga dengan baik kursi roda pemberian dari Yasalti.

     Ditempat yang berbeda Jeriko Huki Radandima anak umur 7 tahun, yang berasal dari kelurahan Maulumbi salah satu anak yang mendapat bantuan kursi roda oleh YASALTI terpantau dari penglihatan staf Yasalti sangat senag dan gembira. Jeriko anak yang difabel (Tunadaksa) meskipun sudah berumur 7 tahun tapi jika dilihat dari bentuk fisik kaya anak berusia 3 tahun. Oleh sebab itu Rudy Malo Pinda yang merupakan coordinator program Yasalti menuturkan orangtua harus peduli akan azupan gisi anak-anak. Asupan Gizi yang bagus akan membuat kesehatan pada anak juga.

Penjelasan Foto:  Umbu Jeriko anak difabel tunadaksa berfoto bersama keluarga dan teman-teman YASALTI. Tampak dari Foto Umbu Jeriko anak yang umurnya sudah 7 tahun, tapi ketika dilihat kaya berusia anak usia 3 tahun. 

(Rudyolof Imanuel Malo Pinda)