Rawan Anak dibawah Umur dipekerjakan

Rawan Anak dibawah Umur dipekerjakan

(Yasalti News)  Terdapatnya anak dibawah umur asal Kab. Sumba Timur NTT untuk dipekerjakan sebagai buruh bangunan seperti mengangngkut pasir dan batu di lokasi proyek, ini adalah sebagian besar anak yang dipekerjakan tidak bersekolah karna membantu orang tua ataupun untuk kepentingan dirinya sendiri dalam mencari nafkah
“. Melihat keadaan  ini, sepertinya anak-anak ini telah hilang Haknya untuk belajar dan menuntut ilmu di bangku sekolah karna mereka bekerja untuk mencari nafkah”., Jelas salah seorang pemerhati sosial Kab. Sumba Timur, Ronald Ardian kepada media ini.
Hal tersebut juga di ungkapkan salah seorang staf Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kab. Sumba Timur, Melce Lomi., Persoalan anak dibawah umur untuk dipekerjakan, kami juga sudah mendapat informasi, tentunya kami sebagai lembaga perlindungan anak (LPA) sangat prihatin masalah ini
“. Ini kan sudah jelas dalam UU perlindungan anak yang tercantum dalam pasal 21 dan 22, bahwa negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan dan memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak”. Ungkapnya
Kepala Dinas tenaga kerja dan transmigrasi (Nakertrans) kab. Sumba timur, Hapu Mbendju, ketika ditemui diruang kerjanya mengatakan.,  Anak dibawah umur untuk dipekerjakan sebagai buruh kasar adalah hal yang tidak wajar, sebab anak tersebut masih dalam asuhan, dipelihara, dididik dan dilindungi, sehingga orangtua berkewajiban bertanggung jawab penuh terhadap anak.
“. Untuk mengantisipasi pekerja anak ini, kami sedang merancang program untuk pengurangan pekerja anak, seperti program dari pusat yaitu program pengurangan pekerja anak-program keluarga harapan (PPA-PKH), ini program dari pusat tahun 2014, ada sekitar 150 orang anak yang dibina dalam 5selter dengan 5 orang tutor dan 15 pendamping, Nah…, program ini sangat membantu pekerja anak tentunya”. Ungkapnya
 Dia juga berharap, pemerintah setempat dapat memperhatikan anak-anak ini yang dipekerjakan sebagai buruh bangunan di lokasi-lokasi proyek, agar anak-anak ini disekolahkan untuk memperbaiki masa hidupnya di masa mendatang. Tandasnya (Bud)