Sejarah

Sejarah pendirian Yayasan Wali Ati (Yasalti) adalah untuk merespon ketimpangan-ketimpangan Sosial, Politik dan Budaya yang dialami oleh orang miskin, perempuan ,anak dan kaum disabilitas yang sangat rentan di  Pulau Sumba. Dari aspek ekonomi perempuan dimiskinkan karena hegemoni sarana produksi oleh kaum laki-laki, dari aspek politik perempuan tersub-ordinasi dan tidak bebas mengekspresikan hak-hak politiknya (politik praktis), dari aspek budaya perempuan hanya lebih banyak berperan sebagai pelancar konsumtif dalam urusan sosial kemasyarakat bahkan perempuan menjadi korban dimana selalu dinomorduakan dalam hal pendidikan serta berbagai hal pengambilan keputusan di ruang publik dan domestik.

Dalam sejarah peradaban manusia terus bergulir hanya manusia sajalah yang paling tahu apa yang terjadi di lingkungannya. Sadar ataupun tidak sadar dalam relasi laki – laki dan perempuan menjadi masalah. Refleksi tentang kehidupan manusia yang layak tanpa memandang jenis kelamin, Struktur  Sosial Budaya, Suku Ras dan Golongan sangatlah penting dalam Era Reformasi saat ini. Perjuangan perempuan untuk tampil dalam wilayah public terutama dalam segala Sektor kehidupannya selalu menghadapi kendala dan hal ini di dukung dengan Budaya Patriarki. Demikian halnya dalam pengelolaan dan penguasaan Sumber Daya Alam lebih dominan laki – laki dibandingkan perempuan.

Kondisi tersebut diatas sangat dimungkinkan praktek diskriminasi dalam hal pemenuhan hak dasar ekonomi , pendidikan dan kesehatan bagi orang miskin, perempuan , anak dan kaum disabilitas kian menguat, karena nilai-nilai transparansi,partisipasi, keadilan sosial dan Gender menjadi terabaikan/tergilas oleh kepentingan kekuasaan. Dan sebagai akibat dari pengabaian nilai-nilai luhur tersebut ketikadilan pola relasi sosial antara perempuan dan laki-laki menjadi mapan. Fakta ini mendorong beberapa inisiator lokal yang berasal dari unsur swasta, pensiunan PNS, lembaga pendidikan dan kesehatan serta Pegawai Negeri Sipil yang masih aktif berkeingianan membangun Organisasi Sosial untuk memediasi persoalan –persoalan yang telah ada bahkan yang akan datang untuk mengurangi ketertindasan,ketidakadilan dan kemiskinan di Sumba.